Apakah kamu desainer grafis yang memiliki lingkugan keluarga atau teman yang bukan desainer? atau bukan orang yang bergelut di bidang kreatif? atau justru Anda adalah si keluarga/teman itu sendiri yang mempunyai kerabat desainer grafis? Dan si keluarga itu adalah pegawai konvensional yang bekerja sebagai PNS atau di BUMN dan atau perusahaan besar?

 

Tulisan ini mungkin lebih untuk keluarga/teman yang memiliki kerabat desainer grafis daripada untuk desainer grafis itu sendiri. Saya merasakan tinggal di lingkungan keluarga yang sama sekali tidak ada yang jadi desainer. Rata-rata kerja di bank, PNS, guru negeri, BUMN, perusahaan nasional/multinasional NON DESAIN. Saya sejak awal bekerja di perusahaan kecil ke menengah, hingga sekarang saya baru bekerja di perusahaan terbesar di bidangnya di Indonesia yang alhamdulillah di Bandung (tidak harus ke Jakarta toh?). Betul!, in house. Apa tuh in house? silahkan googling, wahai non designer.

 

Saya miris pernah membaca twitt yang bilang jadi desainer grafis itu sengsara. Langsung aja saya kultwitt hari itu juga soal #KarirDesain (maaf itu saya copas dari chirpstory yang saya tulis sendiri tentunya). Saya tulis tentang bagaimana langkah-langkah agar tidak sengsara. Baik jika bekerja di Jakarta apalagi di luar Jakarta yang rata-rata UMR lebih kecil, dan kalaupun UMR naik ngga ngaruh juga dan sedikit perusahaan desain/studio/konsultan desain yang stabil, mapan dan besar. Bahkan boleh dibilang hampir ngga ada. Okelah let say beneran ngga ada.

 

Nah kenapa sih buat kalian orang awam sering melihat desainer grafis yang kayanya biasa aja hidupnya, tampilannya dan terlihat tidak makmur?
1. Orang kreatif rata-rata tidak suka bekerja kantoran dan berpakaian formal (kecuali gue itupun baru sekarang mau)

 

http://www.indiatimes.com/health/working-more-than-8hrs-a-day-ups-heart-disease-risk-by-80pc_-39802.html

2. Maka dia lebih memilih bekerja di perusahaan desain/konsultan desain dimana pasti dress code nya santai. Kaos, jins, bahkan sendal kadang-kadang, DI perusahaan seperti ini bisa jadi itu perusahaan memang kecil dan gajinya ngga seberapa atau bahkan sebenernya profitnya gede (masalah gaji sih kebijakan bos ya).
Kecuali tentu saja, kalau Anda liat kantornya dia (desainer) gede tapi bajunya santai itu berarti dia kerja di perusahaan kreatif tapi multinasional atau lokal tapi besar. Kalo ga tau contoh Advertising Multinasional apa saja, ya coba aja misalnya di Google deh. Walaupun itu bukan konsultan desain atau advertising tapi kan ada posisi desainer nya juga. Nah kaya gitu deh, hanya saja advertising multi nama-namanya cuma orang-orang di bidangnya aja yang tau. Macam Ogilvy, JWT, Leo Burnett, DDB, dll. Di jakarta semua sayangnya. Makannya kalau mau enak sih desainer kalau mau sukses atau gaji lumayan/besar ya ke Jakarta. Kecuali in house di perusahaan nasional/multinasioanl non kreatif kaya saya.

 

http://technewspedia.com/google-asks-for-new-domain-extensions-google-youtube-docs-and-lol/

3. Atau contoh lain bahkan dia kerja di rumah, atau freelance. Pegawai bank kaga mungkin freelance, paling adanya teller pegawai harian, itupun tetap di kantor. Freelance itu sekali projek bisa gede, beda dengan gaji bulanan. Ada juga sih freelance yang dibayarnya  per bulan tapi ngga ngantor. Banyak tuh desainer yang suka dengan cara ini. Gajinya bisa gede, bisa juga kecil atau biasa. Nah udah beda kan, pegawai bank dengan desainer dari segi tampilan. Tapi duitnya belum tentu.

http://hoveringartdirectors.tumblr.com

 

4. Ada juga yang passion di bidang desainnya gede dan lebih memilih wirausaha. Justru idealnya seorang desainer memiliki usaha sendiri, perusahaan sendiri yang dirintis dari projek-projek freelance dia hingga dia bisa menggaji orang untuk membantu projek-projeknya. Tampilan?santai, kecuali pas ketemu klien aja, rata-rata pada rapi. Mereka ini ada yang dapet kliennya secara offline lokal, ada juga yang online dari berbagai negara atau keduanya. Yang online dari berbagai negara kliennya ini, banyak yang sukses, rekeningnya bertumpuk dollar hingga bisa menggaji orang. Lebih kaya dari pegawai dasi deh kalo gue bilang.

 

Desainer punya pilihan dan keyakinannya masing-masing mau bekerja di mana, di jalur mana, jenis perusahaan apa, in house atau agency (studio, advertising, konsultan). Tidak bisa kita menyalahkan idealnya harus dimana. Tidak seeprti dokter atau PNS atau bank, ya disitu aja kerjanya dan lebih pasti, duitnya segitu. Kalau desainer banyak pilihan, kalau salah pilih bisa sengsara juga duitnya kalau tidak tahu cara ngembangin gaji.

 

Seperti saya sekarang bekerja di in house untuk pertama kalinya. Desainer lain mungkin males liat saya harus berpakaian rapi dan jam kantor banget 8-5. Tapi inilah pilihan saya sekarang. Sebelumnya saya bekerja selalu di agency. Tapi ngga segitunya juga sih, toh perusahaan tempat saya bekerja ini kalau di Jakarta desainernya lulusan IKJ angkatan kepala 9 :p

 

Saya terlahir (*serius amat) di keluarga yang sangat konvensional. PNS, BUMN, Bank, guru negeri, Dokter (walau mereka ngga tau dan ngga mau tau bahwa outsource dan honorer jauh bedanya dengan pegawai tetap, bagi mereka status kerja di mana, aman) Yang bisnis cuma segerintil itu pun masih pada merintis, belum ke hasil. Sering saya sedih, saya merasa karir saya kurang menonjol di keluarga. Udah mah prestasi di sekolah juga biasa aja dulu. Tapi saya merasa ngga bodoh atau standar juga. Hanya saja ya itu lingkungan saya konvensional banget. Dihina sih ngga ya, (*eh curhat deh) tapi dibanding-bandingin iya. Dari dulu malah, soal prestasi sekolah. Saya tahu tanpa diomong-omong saya merasa tertekan, ketika saya menikah saya ditanya gaji berapa oleh keluarga. Saat itu masih standar Bandung banget gajinya. Dan kantor saya sebelumnya hanya bentuk rumah yang disewa atau ruko. Ya walaupun banyak juga bank bentuk ruko, tapi kan tampilannya beda.
Dan walau sebenarnya sih kantor desain kecil atau rumahan yang ngga terlalu besar banyak, udah biasa, di luar negeri juga banyak, tapi kan mana ngerti si orang awam. Mikirnya kalo yang lain kerja di BUMN kenapa lo kerja di beginian? tanpa mikir kita adalah desainer.

Saya jadi kepikir dan terus terang sempat malu. (Plis jangan judge dan bilang ‘ngapain malu’, terserah gue deh yang penting udah punya solusi). Di sisi lain bukan malu merasa kecil, justru saya merasa ngga kecil (harusnya). Cuma kan karena keadaan saya cewek dan harus ikut suami tinggal di Bandung, bla bla bla, sehingga tidak terlalu bisa banyak memilih. Sedangkan berkali-kali tawaran kerja datang dari Jakarta.

 

Akhirnya, setelah saya resign dari kantor yang sebelumnya yang dikenal oleh karyawannya sendiri  range ‘gaji di situ lumayan’ dan tentu sulit cari perusahan dengan gaji yang sama atau lebih seperti itu di Bandung (walau di jakarta masih terbilang standar/biasa/bahkan kecil mungkin), saya menerapkan tips yang pernah saya kultwitt tadi #KarirDesain yang tidak saya jalani. Kenapa tidak dijalani dari awal? ya belum aja sih hehe…yaitu mencoba ke perusahaan besar menjadi desainer in house. Dan benar saja, fasilitas yang saya dapatkan lumayan jauh, gaji pun lebih besar daripada kantor sebelumnya. Sampai di sini ada kepuasan batin untuk sekedar menunjukan pada lingkungan saya yang konvensional itu. Apalagi sudah tidak ada orang tua (*curhat lagi) saya ngga rela kalau orang tua saya punya image anak-anaknya, biasa aja. Ngga menonjol. GILA.

 

Saya berharap tulisan ini bisa menghibur dan menyemangati para desainer yang sedang ngalamin seperti saya sbelumnya dan berharap dibaca untuk yang memandang sebelah mata karena tidak mengerti soal #KarirDesain

This article has 4 comments

  1. ajiewp Reply

    phhuuufff…….lumayan lah ada temen seperjuangan …..!! hidup hehhehe, kiraain gw hidup sendiri di dunia ini ternyata ada org lain juga toh heheheh

  2. vira Reply

    hahaha… ok bgt mas tulisannya.. ngertiin bgt perasaan para designer :D

  3. Romy Reply

    Tetap semangat, karir graphic designer ga ada habisnya.
    Jangan stuck, just FYI, designer & animator termahal di dunia dr Indonesia ;)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>