Firstly I would like to apologize/meminta maaf jika ada pihak yang tidak berkenan dgn tulisan saya ini. Tulisan ini adalah opini pribadi saya berdasarkan pengalaman pribadi. Apapun yang menjadi pendapat saya adalah tanpa bermaksud untuk menyerang atau menyalahkan sistem DKV yang sudah ada. Semoga tulisan ini saya dapat menjadi masukan yang menambah warna dalam dunia pendidikan DKV di Indonesia. Terima kasih.
 

Dulu saya sempat kuliah desain grafis di Trisakti. saat itu namanya belum di rubah menjadi DKV. Namun jaman saya kuliah dulu setiap kali mau mid dan final, selalu ada mahasiswa antar fakultas yang berantem secara masa kejar-kejaran dan lempar-lemparan di kampus sehingga perkuliahan di liburkan dan ujian selalu dimundurkan dua minggu… itu sering banget..
 

Lalu saya memutuskan untuk pindah kuliah di Amerika. beberapa kampus saya daftar. Ketrima di beberapa sekolah salah satunya Academy of Art University San Francisco. Namun saat itu saya memutuskan untuk mengambil S1 saya di California State University Hayward atas saran almarhum ayah saya.
 

Banyak orang mengatakan bahwa kuliah DKV lebih bagus daripada kuliah desain grafis karena ilmunya lebih luas dan banyak yang dipelajari misal di dalam DKV itu ada kelas seni rupa dasar, ada sejarah, ada desain grafis secara menyeluruh ada multimedia nya ada ilustrasi nya dan ada photography nya juga technical skills utk software dan computer. Memang benar bahwa DKV itu lebih luas dan menyeluruh. Tetapi bukan lebih dalam! karena semua yang dipelajari di DKV di Indonesia saya pelajari dan ambil juga, bedanya di luar negri kuliah rata-rata sudah penjurusan yang dipisah-pisahkan dan tidak menyeluruh.
 

Kita mengambil semua kelas yang ada di DKV sebagai dasar dari beberapa ilmu namun pelajaran jurusan terpisah itu lebih dalam dan kuat fondasi nya. Misalnya, kalau di desain grafis hanya ambil kelas dasar multimedia, tapi jika ingin punya tambahan skill dan portfolio di 3D misalnya, kita bisa atur jadwal untuk mengambil kelas tambahan atau electives. kelas tersebut memang ada tambahan bayaran tetapi bisa kita jadikan tambahan untuk mengambil minor (di States ada major dan minor. Untuk S1 saya mengambil jurusan desain grafis dan multimedia dengan minor di photography dengan menambah 5 kelas photography) dan saya bisa tetap selesai kuliah on time tidak nambah semester.
 

Selain saya kuliah desain grafis untuk S1, saya juga mengambil S2 di Academy of Art University San Francisco, sekolah swasta art & desain terbesar di Amerika. Disini saya mempelajari lebih dalam lagi mengenai desain grafis dari segi research dan konsep. banyak banget ilmu yang saya dapatkan mengenai pentingnya desain grafis dalam kehidupan kita sehari sehari. kemanapun selalu ada graphic design dalam lingkungan dan lifestyle kita.
 

Banyak yang bilang bahwa Desain Grafis itu mempelajari skill teknik software, maaf mereka yang mengatakan hal seperti itu adalah salah! Sesain grafis bukan lebih mengutamakan pada skill teknik, tetapi lebih dalam lagi dengan mempelajari skills teknik, fine art, print, digital, various layout, estetika, konsep ideas, design styles, typography, grid system, sejarah ataupun branding dan packaging yang lebih detail daripada kulaih DKV. Jika hanya mempelajari technical skills itu jaman dulu disebut computer graphic atau desktop publishing. Namun banyak pula computer graphic major itu seperti DKV.
 

Jadi, kuliah untuk DKV itu lebih general dan universal.Di luar negeri mayoritas sekolah menerapkan kuliah yang lebih fokus pada penjurusan, misal multimedia, web design and new media, graphic design, illustration, animation and visual effect, game design, environmental design, advertising and so on… jurusan-jurusan ini lebih fokus dan dalam ilmunya dibanding kita mengambil DKV.
 

Misal untuk anak-anak DKV di Indonesia tidak jarang saat ditanya kenapa ambil jurusan DKV mereka menjawab karena suka gambar. Seharusnya anak-anak ini masuk ke jurusan illustrasi. Mereka akan lebih enjoy dan skills nya lebih matang saat mengambil penjurusan bidang khusus seperti itu dibanding ambil DKV. Mereka juga akan mempelajari konsep yang kuat dan membuat karya di medium yang berbeda. Portfolio mereka akan lebih banyak dan makin kuat secara konsep dan skills. Nah, begitu pula dengan advertising, new media, photography, atau multimedia.
 

Untuk desain grafis kita pelajari kok semua yang dipelajari di DKV, namun saya akui untuk skill design, teknik, styles dan taste sampai history dan broad knowledge tentang desainer dan creative ideas anak-anak yang mengambil kuliah ini di luar negri lebih dalam dan luas.
 

Satu hal yang saya selalu aplikasikan dan tekankan saat saya menjadi kaprodi di LaSalle atau UIC Design atau sebagai dosen di President University, saya mengaplikasikan metode pengajaran yang saya dapatkan di luar, misal murid harus presentasi kerjaannya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Kuliah desain grafis harus bisa presentasi dan menjual karya nya dengan baik dan benar, ga asal ngomong atau takut ngomong. Harus meaningful dan punya konsep yang kuat. Saya sering mengajari murid-murid saya untuk presentasi dan bicara untuk meyakinkan audience nya. Kenapa saya sangat suka mengajar di sekolah yang memakai sistem kurikulum international karena selain tidak terlalu banyak teori dan aturan yang dibakukan, tetapi saya juga bisa mengaplikasikan apa yang yang pelajari di luar dengan membuat kelas maksimum hanya 20 orang (kecuali sejarah bisa 50 orang) dan dosen bisa punya waktu untuk presentasi di depan kelas untuk project mereka juga bisa one on one session dengan muridnya. Feedback one on one itu yang paling penting dan murid-murid lain juga harus mendengarkan karena kasus setiap murid berbeda dengan murid lainnya. Memiliki 1 dosen dan 3-4 dosen pendamping hampir tidak banyak dilakukan di luar. Kadang murid bisa merasa bingung atau memilih seseorang yang dia nyaman saja.
 

Satu hal lagi yang saya rasa menjadi kekurangan dari DKV adalah mengenai Tugas Akhir (TA) dan Portfolio. Di kampus tempat saya mengajar sekarang, sudah menerapkan seperti di luar negeri. Murid tidak ada TA, melainkan Thesis. Untuk TA saya memberikan tugas seberat itu di tiap semester dan tiap kelas. jadi mereka sudah terbiasa dengan bekerja seperti itu. Untuk Thesis tema nya ga bisa se-simple rebranding product. Tapi harus menciptakan suatu metode baru untuk sesuatu yang berguna bagi masyarakat atau target market tertentu. Portfolio pun ada kelas tersendiri. Saat saya merancang modul dalam kurikulum untuk portfolio pun, saya berkonsultasi dengan dosen saya di Academy of Art namanya Mary Scott, kalau ga salah beliau pernah menjadi ketua AIGA chapter Los Angeles, karena beberapa metode yang saya aplikasikan saya pelajari saya mengambil kelas dengan Mary.
 

Pelajaran khusus untuk copyright ada di beberapa kelas dan kita bener2 mempelajarinya agar tidak menyalahi aturan. Apalagi di States, urusan law dan copyright ini sangat penting dan dihormati oleh semua orang.
 

Saat kuliah di Trisakti (masuk tahun ‘93, hanya 1,5 tahun kuliah disana), saya mendapati dosen saya mengambil karya nirmana ruang saya tanpa ijin. Saat itu saya dan beberapa teman yang mendapat nilai A+ diminta untuk meninggalkan karya kami untuk dipegang si dosen itu selama setahun dan dosen tsb minta ijin untuk memajang karya kami sebagai contoh untuk junior saya. Saat itu saya berhenti kuliah untuk transfer nilai dan berangkat ke Amerika dan mulai kuliah disana. Lalu saya pulang untuk liburan dan bertemu dengan teman2 saya di kampus sekaligus berniat mengambil karya kami yang dipinjam si dosen. Namun saat saya dan beberapa teman senasib saya meminta kembali karya kami yang begitu sulit dibuat dan mendapat nilai bagus tsb, ternyata karya kami sudah ada yang dijual dan ada yang diberikan kepada orang lain, oleh karena itu saya marah sekali. Karena selama saya berada di Amerika, pelajaran yang baru dasar saja saya pelajari sudah mengajarkan saya mengenai copyright dan ilmu desain grafis yang cukup dalam. Betapa dosen yang harusnya mendidik kami tetapi tidak menghargai copyright dari portfolio kami. Memotret pun kami tidak sempat lakukan.
 

Banyak karya di Indonesia menekankan pada graphics nya (ilustrasi) nya bukan pada layout dan kekuatan typography nya itu menurut saya yang paling amat sangat menjadi titik kelemahan mahasiswa DKV di Indonesia.. kurang nya ilmu yang dalam dan kuat mengenai typography dan layout. Graphic Design bukan Graphics dalam arti kata gambar ilustrasi. atau seperti yang dipinggir2 jalan tukang cetak dan stempel menulis mereka adalah desainer grafis. semua orang bisa mempelajari tehnik software adobe atau corel.. tetapi tidak semua orang yang bisa skills komputer software tersebut layak disebut desainer grafis.
 

DKV di Indonesia dari segi bagusnya adalah banyak budaya orang di Indonesia inginnya instant. Mengenai DKV, mempelajari semua materi dari desain grafis, advertising, illustration sampai multimedia bisa jadi cocok untuk pasar disini. Tetapi jika kita dapat mendidik dengan system yang lebih baik kenapa tidak.
 

Masih banyak, sih hal2-hal yang saya ingin di Indonesia agar desain grafis lebih baik lagi. Karena kalau dipukul rata perbedaannya jauh kalau melihat skills, portfolio dan attitude murid-murid DKV. Ada yang memiliki kualitas yang bagus seperti lulusan luar. tapi mayoritas bisa kalah saing sama mahasiswa graphic design, illustration atau multimedia dari luar negri.
 

Semoga pendapat saya ini tidak menyinggung beberapa pihak. I just share my thoughts here because simply I want the best and better for my country especially to the job I am passionate about
 


Image via Twitter.
Penulis adalah Kiki RF Hakim,  

Profile Lengkap

This article has 6 comments

  1. Gimi Reply

    Wah setuju banget nih sama artikelnya, saya juga mahasiswa DKV di sebuah universitas swasta di Bandung dan merasa sekali bahwa saya mempelajari semua ilmu yang diajarkan hanya dipermukaanya saja. Tidak ada penjurusan untuk mendalami materi yang saya inginkan, sehingga harus memaksa memakan waktu dan biaya lebih untuk mendalami materi diluar kampus.

    Oh iya di kampus saya juga sering terjadi hal seperti karya mahasiswa tidak dikembalikan lagi oleh dosen. :(

    Semoga tidak terus-menerus seperti ini.

    Terima kasih untuk menambah wawasan saya dengan menulis artikel ini.

    :)

  2. inda Reply

    Wah aku setuju sekali nih dengan artikel ini. Kebetulan aku juga kuliah di jurusan DKV, baru lulus hehe Dan kemarin mempelajari semuanya. Mulai dari graphic design, typography, advertising, photography, multimedia, dll.

    Minatku kebetulan di advertising. Saat magang baru terasa kalau advertising yang aku pelajari di kampus baru di permukaan saja. Awalnya ngerasa ga pede, karna kemampuanku tidak sama dengan teman magangku yang memang kuliah di jurusan advertising. Jadi aku harus belajar Dan berusaha 2 Kali lebih keras untuk mengejar kemampuan. Bersyukur aku mendapatkan mentor yang sangat sabar Dan Mau membagi ilmunya. Tapi, tentunya tidak semua mentor seperti itu. Bagaimana kalau murid bertemu dengan mentor yang galak, sibuk, atau pelit ilmu?

    Lebih baik memang kalau murid diajarkan ilmu yang lebih mendalam sesuai dengan minat bidangnya saat masih kuliah. Skills Dan konsep akan terlihat lebih matang pada kelas portfolio. Jadi, saat murid magang, atau bekerja, kemampuan Dan mentalnya pun akan sudah Jauh lebih siap.

    Terima kasih sudah menulis artikel ini. Membaca artikel ini akupun jadi ikut merenung Dan ingin sharing pengalaman. Semoga generasi berikutnya mendapatkan sistem yang lebih baik :D

  3. ef Reply

    ibu, boleh tau ngga,
    jurusan apa yang cocok kalo mau membuat film atau sutradara film?
    kalo seni membuat video ada du jurusan apa bu?
    kalo videografi itu matakuliah seperti apa bu?
    trimakasih.

  4. aristoart Reply

    Haloo mbak kiki

    Keren cerita / pengalaman yang menginspirasi,
    Kl boleh nanya, mbak pernah menulis buku? Kl iya kabarin yaa. Bahasa dr ceritanya seru. Sapa tau sudah di bingkai dan dapat di baca lg buat nambah ilmu.

    Matursuwun
    Aristo | 2016

  5. Juni Reply

    Untungnya di UPH mempunyai dosen yang berkualitas yang mengajarkan sedetail mungkin tentang suatu konsep. Memang sistem universitasnya kurang baik karena mata kuliah yang begitu banyak sedangkan waktu libur sedikit. Namun oleh karena dosen-dosen yang kritis dan idealis karena mereka telah berpengalaman kuliah di luar negeri atau bahkan kerja di tempat yang bagus seperti Google atau agensi-agensi ternama, membuat saya bersyukur kuliah di situ.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>